Senin, 16 Februari 2009

Sejarah Singkat SMUN 18










  1. Pada 16 Oktober 1958 sekolah kwomintang diambil alih dengan PEPERPU No.0439/58 dinamakan SMA PPS I (Penguasa Perang Sementara I). Komplek sekolah tersebut terdiri dari TK, SD, SMP dan SMA. Beralamat di jalan jembatan batu No.74 Jakarta Barat.

  2. Tanggal 1 Oktober 1965 sampai dengan 23 Agustus 1966. SMA PPS I dipimpin oleh Bapak Drs.M.Hasibuan sekaligus sebagai pendiri.

  3. Tanggal 24 Agustus 1966 SMA PPS I dijadikan SMA Negeri 18 dangan SK terakhir status sekolah No.106/SK/BIII/65.66 tertanggal 29 juli 1966 yang berkedudukan di jalan Jembatan Batu No.74 Jakarta Barat sampai tahun 1993.

  4. Periode Kepala SMA Negeri 18 Jakarta
    Drs.M.Hasibuan (tahun 1966 S/D 1975)
    Drs.J.Mangari (tahun 1975 S/D 1980)
    Supodo BA (tahun 1980 S/D 1985)
    Drs Sukarsono (tahun 1985 S/D 1989)
    Dra Umi Wahyuni (tahun 1989 S/D 1993)
    Drs Kasim Sembiring (tahun 1993 S/D 1997)
    Drs Triyana (tahun 1997 S/D 2001)
    Drs A.Y Gino Madyohadi Mpd (tahun 2001 S/D 2005)
    Dra Nuzul Inayah MM (tahun 2005 S/D 2008)
    Drs Agus Triyogo MM (tahun 2008 S/D Sekarang)

  5. Pada tahun 1994 SMA Negri 18 pindah ke jalan warakas I Tg Priok untuk menempati gedung barunya dengan kapasitas tiga lantai yang terdiri dari 16 ruangan kelas, 1 ruang TU, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang aula dan ruang laboratorium serta ruangan perpustakaan.

  6. Pada awal kepindahan tahun 1994, oleh kepala sekolah Drs Kasim Sembiring dibuka 20 kelas. Kelas II, III Masuk pagi, sementara kelas I Masuk siang. Sementara pembangunan Mushola dan pagar gedung dimulai dengan biaya swadaya.

  7. Pada periode Kepala Sekolah Drs.Triyana jumlah rombongan belajar di susutkan menjadi 18 kelas dimana semua kelas masuk pagi hari. Pembangunan dilanjutkan dengan pagar depan sekolah, pintu gerbang, pos jaga dan dapur untuk keperluan guru/TU dilanjutkan pula penghijauan lingkingan sekolah.

  8. Bulan April tahun 2001, kepala sekolah SMAN 18 digantikan oleh Drs.A.Y Gino Madyohadi Mpd. Rombongan Belajar menjadi 21 Kelas. Untuk meningkatkan mutu, kesra guru dan karyawan menjadi hal yang pertama kali di perhatikan, sementara pembangunan fisik sekolah disempurnakan dengan mulai memperhatikan keindahan sekolah

Rabu, 11 Februari 2009

Thomas Alva Edison

NANCY MATTHEWS EDISON (1810-1871)

Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut, " Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah." Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, " anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia." Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, namun bila kita mendengar nama Edison, kita langsung tahu bahwa dialah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Thomas Alva Edison menjadi seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai" diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy yang memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy yang memulihkan kepercayaan diri Edison , dan hal itu mungkin sangat berat baginya. namun ia tidak sekalipun membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti.